Demokrasi Qur’ani: Membangun Masyarakat Berkeadaban di Era Transformasi Digital.
Upaya melahirkan buku ini tidak mudah; riset panjang dilakukan menghadirkan pembacaan kritis terhadap demokrasi di tengah derasnya arus digital. Demokrasi tak lagi soal parlemen atau pemilu semata, melainkan juga algoritma, media sosial, dan etika komunikasi digital. Buku ini menyoroti paradoks demokrasi digital: partisipasi meluas, namun kualitas dialog merosot; akses informasi berlimpah, tetapi kebenaran justru kabur; kebebasan berekspresi meningkat, namun tanggung jawab melemah. Penulis mengupas tantangan nyata seperti disinformasi, polarisasi, politik identitas, dan lemahnya literasi digital-etis. Melalui pendekatan Qur’ani, buku ini menawarkan konsep demokrasi yang berlandaskan etika, tabayyun (verifikasi informasi), dan musyawarah yang bijak. Tepat untuk pembaca yang ingin memahami demokrasi dari perspektif spiritual sekaligus kritis terhadap realitas digital, buku ini menjadi peta jalan membangun demokrasi yang berkeadaban dan berorientasi pada kebenaran serta kemaslahatan bersama. “Penulis buku ini berhasil merajut hubungan antara nilai universal Al-Qur'an dan praktik demokrasi modern secara objektif.” Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A.Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Direktur Eksekutif LAMGAMA